Berikut adalah penelusuran kritis mengenai jalur belakang perburuan poin demi pemenuhan centang hijau di aplikasi:
1. Komodifikasi Sertifikat: Webinar sebagai «Formalitas»
Webinar yang seharusnya menjadi sarana peningkatan kompetensi kini telah bergeser menjadi komoditas dagang.
-
Jasa Joki Webinar: Bagi guru yang terlalu sibuk mengajar atau gaptek, muncul jasa joki yang bersedia mengikuti webinar atas nama guru tersebut. Mereka mengelola akun aplikasi kinerja guru, menonton video pelatihan, hingga mengerjakan post-test demi mendapatkan predikat «hijau».
2. Praktik «Sertifikat Kilat» dan Manipulasi Dokumen
Tekanan untuk memenuhi target poin di akhir semester memicu praktik manipulasi yang lebih berisiko secara hukum.
-
Sindikat Penjual E-Sertifikat: Di media sosial, terdapat grup-grup khusus yang menjual paket sertifikat dari berbagai instansi (sering kali mencatut nama organisasi profesi atau lembaga pendidikan) dengan tanggal yang bisa dipesan (backdate).
Perbandingan: Pengembangan Diri Sejati vs. Formalisme Digital
3. Kegagalan Sistem: Mengapa Guru Tergoda?
Munculnya sindikat ini bukan semata-mata karena guru tidak berintegritas, melainkan karena sistem menciptakan situasi yang mustahil.
-
Kualitas Pelatihan yang Rendah: Banyak webinar resmi yang disediakan justru membosankan, terlalu teoretis, dan tidak relevan dengan kebutuhan nyata di kelas. Guru merasa mengikuti pelatihan tersebut secara jujur hanya membuang waktu tanpa memberikan manfaat pedagogis.
4. Dampak Jangka Panjang: Degradasi Marwah Guru
Jika praktik ini dibiarkan, dunia pendidikan akan menanggung konsekuensi moral yang berat.
-
Hilangnya Keteladanan: Bagaimana seorang guru bisa mengajarkan kejujuran dan anti-mencontek kepada siswa, jika ia sendiri «mencontek» jalur administratif untuk mendapatkan sertifikat?
-
Inflasi Dokumen: Sertifikat menjadi tidak berharga. Ketika semua orang memiliki tumpukan sertifikat namun kualitas pengajaran tetap stagnan, kepercayaan publik terhadap profesi guru akan merosot tajam.
5. Kesimpulan: Memanusiakan Kembali Penilaian Kinerja
Untuk mematikan sindikat sertifikat bodong, pemerintah harus mengubah logika penilaian kinerja:
-
Kualitas di Atas Kuantitas: Hapus kewajiban pengumpulan poin yang bersifat «borongan». Penilaian seharusnya difokuskan pada observasi nyata di dalam kelas, bukan pada jumlah PDF yang diunggah.
-
Verifikasi Berbasis Dampak: Sertifikat hanya boleh diakui jika guru dapat menunjukkan bukti penerapan ilmu tersebut dalam pembelajaran siswa.
-
Penyederhanaan Aplikasi: Jangan biarkan aplikasi menjadi «tuan» yang memperbudak guru. Aplikasi harus berfungsi memotret realita, bukan menciptakan realita palsu.
Mengejar centang hijau di aplikasi dengan cara-cara curang hanya akan menghasilkan pendidikan yang hijau di layar, namun kering di dalam kelas.
Menurut Anda, apakah sebaiknya pemerintah menghapus sistem poin pengembangan diri ini dan menggantinya dengan ujian kompetensi berkala yang dilakukan secara langsung (luring) untuk menjamin validitas kemampuan guru?










